Pages

Anda pengunjung yang ke:

Traffic Counter

ILMU OBAT ANALGETIK BERDASARKAN FARMAKOLOGI

    Obat analgetik atau bahasa simpelnya adalah obat penghilang atau setidaknya mengurangi rasa nyeri pada tubuh. Dalam perkembangan ilmu Farmakologi (enaknya ditambahin kata ilmu walaupun sebenarnya istilah farmakologi sudah mencakup ilmu) obat analgetik ini terbagi pada dua kategori besar yakni Obat Analgetik Narkotik dan Obat Analgetik Non-Narkotik.
Indikasi:
   Karena risiko efek sampingnya, penggunaannya sebagai analgesik-antipiretik sangat  dibatasi yaitu:
- Nyeri akut hebat sesudah luka atau pembedahan.
- Nyeri karena tumor atau kolik.
- Nyeri hebat akut atau kronik bila analgesik lain tidak menolong.
- Demam tinggi yang tidak bisa diatasi antipiretik lain.
Memilih Obat Analgetika tanpa Resep
   Obat analgetik adalah obat penghilang nyeri yang banyak digunakan untuk mengatasi sakit kepala, demam,dan nyeri ringan. Obat-obat ini mudah diperoleh tanpa resep.Jika digunakan dalam waktu singkat, obat-obat ini umumnya aman dan efektif. Tapi dengan banyaknya macam obat analgetik yang tersedia di pasaran, harus dipilih obat yang optimal untuk pasien dalam keadaan tertentu. Pemilihan tersebut harus mempertimbangkan keadaan pasien, penyakit dan obat lain yang diminum dalam waktu bersamaan, keamanan, efisiensi, harga, dan tak ketinggalan respons tubuh pasien terhadap terapi. Sebelum memilih obat penghilang nyeri yang tepat, sebaiknya diketahui dulu apa yang disebut nyeri dan macam nyeri yang dapat disembuhkan dengan analgetika.
   Berdasarkan lokasi asalnya, nyeri dapat dikatagorikan menjadi beberapa kelas yaitu: nyeri somatik, viseral, dan neuropatik. Nyeri somatik adalah nyeri yang berlokasi di sekitar otot atau kulit, umumnya berada di permukaan tubuh. Nyeri viseral adalah nyeri yang terjadi di dalam rongga dada atau rongga perut. Sedangkan nyeri neuropatik terjadi pada saluran saraf sensorik.
Kondisi yang menyebabkan nyeri viseral antara lain adalah iskemia (kekurangan darah) pada organ atau jaringan tubuh (seperti pada penyakit angina ectoris/serangan jantung), kejang otot perut, regangan fisik suatu organ, regangan pada usus, dan sebagainya yang semuanya terjadi di dalam rongga perut atau dada. Tidak seperti nyeri somatik, nyeri viseral ini umumnya tidak dapat dirasakan secara tepat lokasinya, kadang terasa seperti di berbagai tempat pada kulit atau otot, tapi sebenarnya berada di dalam rongga badan.
   Obat analgetika tanpa resep biasanya digunakan untuk nyeri akut dan sering juga digunakan untuk terapi tambahan pada penyakit-penyakit kronik yang diikuti rasa nyeri. Namun belum terbukti babhwa obat ini bisa menyembuhkan nyeri neuropatik.
Ada tiga kelas analgetik tanpa resep yang saat ini tersedia di pasaran, yaitu: golongan parasetamol, golongan salisilat meliputi aspirin/asetilsalisilat, atrium salisilat, magnesium salisilat, cholin salisilat; dan golongan turunan asam propionat seperti ibuprofen, naproxen, dan ketoprofen.
Karena memiliki sifat farmakologis yang mirip, golongan salisilat dan turunan asam propionat digolongkan sebagai obat anti inflamasi non-steroid (AINS). Obat-obat ini tersedia dalam berbagai merek, termasuk sebagai obat generik, dan sering dikombinasikan dengan obat atau bahan tambahan seperti kafein. Obat-obat ini juga banyak dijumpai dalam komposisi obat-obat batuk, pilek dan flu.
   Obat-obat AINS memiliki sifat analgetika (penghilang nyeri), antipiretika (turun panas), dan antiinflamasi (anti bengkak/radang). Dengan dosis yang berbeda, dapat diperoleh efek yang berbeda. Dosis untuk efek analgetika biasanya lebih rendah dibanding untuk antiinflamasi.
Perbandingan keampuhan
Obat-obat AINS juga lebih efektif untuk nyeri yang berkaitan dengan inflamasi (seperti nyeri gigi, nyeri akibat sengatan matahari, dan gangguan rematik) jika digunakan dalam dosis untuk antiinflamasi dosis. Parasetamol bahkan tidak memiliki efek antiinflamasi, hanya analgetika dan antipiretik.
Ada beberapa kondisi kesehatan yang harus diperhatikan dalam pemilihan obat analgetika, antara lain:
Gangguan ginjal.
Prostaglandin berperan dalam fungsi ginjal dan sistem darah. Risiko yang mungkin terjadi adalah terjadinya gangguan elektrolit, kegagalan ginjal akut, gagal ginjal kronis, dan nephropati. Risiko ini lebih banyak dijumpai pada penggunaan obat AINS nonsalisilat yang lama. Pasien dengan gangguan ginjal sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam penggunaan analgetika ini.
Penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah).
Penggunaan obat AINS dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan kontrol tekanan darah pada pasien berpenyakit kardiovaskuler. Meskipun aspirin dosis rendah (50-325 mg per hari) kini direkomendasikan untuk beberapa penyakit kardiovaskuler (iskemia akibat stroke, infark jantung, dll), diperlukan pemantauan yang ketat dari dokter atau apoteker.
Diabetes melitus.
Pasien diabetes umumnya termasuk kelompok yang berisiko tinggi terhadap efek samping penggunaan obat AINS, karena mereka mempunyai toleransi terhadap nyeri yang lebih rendah dibandingkan orang normal, sehingga mereka umumnya membutuhkan analgetika lebih banyak. Karena pasien diabetes umumnya juga berisiko tinggi terhadap penyakit ginjal fase terminal, penggunaan obat analgetika harus hati-hati dan dimonitor oleh dokter atau petugas kesehatan lainnya.
Gangguan saluran pencernaan.
Obat-obat AINS dapat menyebabkan komplikasi saluran pencernaan seperti dispepsia, radang lambung, luka lambung, perdarahan lambung dan secara sistemik dengan penghambatan sintesis protaglandin. Radang lambung adalah efek lokal yang dapat terjadi pada dosis rendah, sedangkan perlukaan lambung biasanya terjadi akibat penghambatan prostaglandin secara sistemik dan sering kali tanpa gejala sebelumnya.
Pasien yang berisiko tinggi terhadap komplikasi serius saluran cerna akibat AINS (seperti luka lambung, perdarahan,).
 adalah mereka yang punya riwayat gangguan lambung, yang berusia lebih dari 60 tahun, dan mereka yang menggunakan secara bersamaan obat-obat lain seperti kortikosteroid, antikoagulan dan nikotin. Faktor risiko tambahan antara lain adalah jika menggunakan aspirin dan obat AINS lainnya dalam kombinasi, dan menggunakan aspirin dan obat AINS lainnya dengan alkohol. Parasetamol merupakan pilihan yang paling aman untuk pasien dengan gangguan saluran cerna.
Penyakit hati.
Walaupun relatif tidak banyak terjadi, efek samping pada hati berkisar dari ringan sampai fatal dapat ditemui pada penggunaan analgetika. Salisilat bisa menyebabkan keracunan akut jika konsentrasi obat dalam darah tinggi, terutama jika pasien telah memiliki gangguan fungsi hati (seperti pada hepatitis) atau demam rematik. Pada peminum alkohol berat, risiko terjadinya keracunan hati bisa meningkat dengan pemakaian parasetamol yang berlebihan.
Asma.
 Kira-kira 20% pasien asma berpotensi terhadap risiko reaksi alergi (hipersensitif) setelah penggunaan aspirin. Pasien yang mempunyai riwayat polip hidung atau rinitis, gatal-gatal, dan alergi lain terhadap aspirin sebaiknya menghindari penggunaan obat tersebut. Natrium salisilat dan parasetamol merupakan alternatif yang baik.
Gangguan penggumpalan darah.
Pasien dengan gangguan penggumpalan darah seperti hemofilia, trombositopenia, uremia dan sirosis harus menghindari pemakaian obat AINS. Mereka yang berusia lanjut dan yang mengkonsumsi alkohol secara reguler dan minum obat antikoagulan bisa mengalami pendarahan yang lebih lama, karena itu harus berhati-hati dalam menggunakan obat AINS.Di antara semua produk obat AINS, salisilat nonasetil merupakan pilihan karena tidak memiliki efek yang besar terhadap fungsi platelet. Namun, parasetamol umumnya masih merupakan pilihan yang aman untuk kondisi pasien dengan gangguan penggumpalan darah.
Kelebihan asam urat.
Banyak pasien rematik/gout menggunakan analgetik untuk menghilangkan nyeri. Salisilat pada dosis harian sebesar 1-2 gram menghambat pengeluaran asam urat melalui ginjal dan akibatnya meningkatkan konsentrasi urat pada plasma darah yang dapat memperparah kondisi.   Pada bayi dan anak-anak, keamanan dan efektifitas obat analgetika tergantung pada dosis yang tepat. Idealnya, dosis dihitung berdasarkan pada berat badan, dan obat harus diberikan dengan cara yang tepat agar semua obat bisa terminum, karena anak kecil umumnya sulit untuk anak sesuai dengan umurnya.
     Bahaya Obat Analgetik dan Antipiretik
Untuk mengatasi demam dan nyeri digunakan obat yang dikenal dengan analgetik dan antipiretik. Obat Analgetik dan Antipiretik  memiliki mekanisme kerja yang sama. Para ahli menggolongkannya dalam satu kelompok obat, karena memiliki fungsi yang sama hanya saja susunanya berbeda. Mekanisme kerja obat analgetik dan antiperetik adalah untuk menghambat kerja enzim siklookcygenasi (COX), Enzim yang berperan dalam mengubah asam arakhidonat menjadi prostaglandin.
Efek Samping                     
Gangguan Saluran Cerna.
Selain menimbulkan demam dan nyeri, ternyata prostaglandin berperan   melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat pengeluaran asam lambung dan mengeluarkan cairan(mukus) sehingga mengakibatkan dinding saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam lambung yang bisa merusak.
Gangguan Hati( hepar).
Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol. Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain.
Gangguan Ginjal.
Hambatan pembentukan prostaglandin juga bisa berdampak pada ginjal. Karena prostaglandin berperan homestasis di ginjal. Jika pembentukan terganggu, terjadi gangguan homeostasis.
Reaksi Alergi.
Penggunaan obat aspirin dapat menimbulkan raksi alergi. Reaksi dapat berupa rinitis vasomotor, asma bronkial hingga mengakibatkan syok.
Saran Penggunaan
v     Perhatikan zat aktif obat
v     Waspadai jika sedang menggunakan obat lain.
v     Penderita penyakit maag, gangguan hati dan gangguan ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan dokter
v     Perhatikan Lama Penggunaan
     Analgetik Kuat dan Lemah
 Analgetik adalah senyawa yang dapat menekan fungsi sistem saraf secara selektif. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgetik bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul, analgetik dibagi menjadi dua golongan yaitu analgetik narkotik dan analgetik non-narkotik
1. Analgetik Narkotik
Obat Analgetik Narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin. Meskipun memperlihatkan berbagai efek farmakodinamik yang lain, golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri yang hebat. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Obat Analgetik Narkotik ini biasanya khusus digunakan untuk mengahalau rasa nyeri hebat, seperti pada kasus patah tulang dan penyakit kanker kronis.
Aktivitas analgetik narkotik jauh lebih besar dibandingkan golongan analgetik non-narkotik, sehingga disebut juga analgetik kuat. Golongan ini pada umumnya menimbulkan euphoria sehingga banyak disalahgunakan. Pemberian obat secara terus-menerus menimbulkan ketergantungan fisik dan mental atau kecanduan, dan efek ini terjadi secara cepat. Penghentian pemberian obat secara tiba-tiba menyebabkan sindrom abstinence atau gejala withdrawal. Sedangkan kelebihan dosis dapat menyebabkan kematian karena terjadi depresi pernapasan.
Efek analgesik dihasilkan oleh adanya pengikatan obat dengan sisi reseptor khas pada sel dalam otak dan spinal cord. Rangsangan reseptor juga menimbulkan efek euphoria dan rasa mengantuk.Berdasarkan struktur kimianya, analgetik narkotik dibagi menjadi 4 kelompok :
1.   TurunanMorfin
Contoh : morfin, kodein, dan heroin. Kodein memiliki efek analgetik yang lebih rendah daripada morfin, namun mempunyai efek antibatuk yang kuat, dan tidak menyebabkan kecanduan. Sedangkan heroin memiliki efek analgetik dan euphoria yang lebih tinggi daripada morfin, sehingga sering disalahgunakan.
Heroin menyebabkan kecanduan dan digolongkan ke dalam obat terlarang.

Codein (kodein)

Golongan
Sediaan
Penyakit/indikasi
Alasan penggunaan
Penghilang nyeri golongan opioid (analgesik opioid)
Tablet: 30 mg (fosfat)
Penghilang nyeri opioid potensi rendah untuk nyeri rignan samapi sedang
Indikasi:
Nyeri ringan sampai sedang
Kontraindikasi :
Depresi napas, penyakit paru obstruktif, serangan asma akut
Perhatian :
Gangguan hati dan ginjal; ketergantungan; kehamilan; menyusui; overdosis
Kehamilan dan meyusui :
Kehamilan :
v     Trimester 3 : menekan pernapasan neonates; efek putus obat pada neonates dengan ibu yang tergantung obat; risiko henti kerja lambung dan aspirasi pneumonia pada ibu selama persalinan
Menyusui :
v     Jumlah terlalu sedikit untuk berbahaya; namun ibu memiliki keberagaman dalam memetabolisme codein- risiko overdosis morfin pada bayi
Interaksi : opioid analgesik
Alkohol
Meningkatkan efek hipotensif dan sedasi saat opioid analgesik diberikan bersama alkohol
Antibakterial
Kadar alfentanil dalam darah ditingkatkan oleh eritromisin; hindari premedikasi dengan opioid anlagesik disarankan oleh pabrik ciprofloxacin, mengurangi kadar ciprofloxacin dalam darah saat ciprofloxacin sebagai antibiotik profilaksis; rifampicin meingkatkan metabolism metadon, mengurangi efek
Antikoagulan
Tramadol meningkatkan efek antikoagulan koumarin; dextropropoxyphene mungkin meningkatkan efek antikoagulan koumarin
Antidepresan
Kadar konsentrasi metadon dalam darah mungkin ditingkatkan fluvoxamin; mungkin meningkatkan efek serotoninergik saat petidin atau tramadol diberikan dengan duloxetine; mungkin eksitasi atau depresi system saraf pusat-SSP (hipertensi atau hipotensi) saat opioid alanlgesik diberikan dengan MAOI, hindari penggunaan bersama dan 2 minggu setelah berhenti MAOI; eksitasi atau depresi SSP (hipertensi atau hipotensi) saat petidin diberikan dengan MAOI, hindari penggunaan bersama dan 2 minggu setelah berhenti MAOI; mungkin eksitasi SSP atau depresi (hipertensi atau hipotensi) saat opioid analgesik diberikan dengan meclobemide; mungkin eksitasi SSP atau depresi (hipertensi atau hipotensi) saat dextrometorphan atau petidin  diberikan dengan meclobemide, hindari penggunaan bersama; menignkatkan risiko toksisitas SSP saat tramadol diberikan dengan SSRI atau trisiklik; efek sedasi mungkin meningkat saat analgesik opioid diberikan dengan trisiklik
Antiepilepsi
Kadar metadon dalam darah diturunkan oleh carbamazepin; dextropropoxyphen meningkatkan efek carbamazepin; efek tramadol diturunkan oleh carbamazepin; fenitoin meningkatkan metabolism metadon, mengurangi efek dan risiko reaksi putus obat
Antijamur
Ketokonazol menghambat metabolism buprenorphin, kurangi dosis buprenorphin; metabolism fentanil dihambat oleh flukonazol, risiko depresi napas lebih lama atau lebih lambat muncul; kadar fentanil dalam darah mungkin ditingkatkan oleh flukonazol dan itrakonazol; vorikonazol meningkatkan kadar alfentanil dan metadon dalam darah, pertimbangkan menurunkan dosis alfentanil dan metadon
Antihistamin
Efek sedasi mungkin meningkat saat analgesik opioid diberikan dengan antihistamin sedative
Antipsikotik
Meningkatkan efek sedasi dan hipotensi saat analgesik opioid diberikan dengan antipsikotik; meningkatkan risiko kejang saat tramadol diberikan dengan antipsikotik
Antiviral
Kadar metadon mungkin diturunkan oleh abacavir dan nevirapin; kadar metadon dalam darah diturunkan oleh efavirenz, fosemprenavir, melfinavir, dan ritonavir; ritonavir meningkatkan kadar dextropropoxyphen, ririko toksisitas hindari penggunaan bersama; kadar buprenorphin dalam darah mungkin ditingkatkan oleh ritonavir;kadar petidin dalam darah dikurangi oleh ritonavir, tetapi kadar metabolit toksik petidin dalam darah meningkat, hindari penggunaan bersamaan; ritonavir mungkin mengurangi kadar morfin dalam darah, meningkatkan kadar fentanil dalam darah; metadon mungkin meningkatkan kadar zidovudin dalam darah
Ansiolitik dan hipnotik
mengingkatkan efek sedasi saat analgesik opioid diberikan dengan ansiolitik dan hipnotik
Atomoxetine
Meningkatkan risiko aritmia ventricular saat metadon diberikan dengan atomoxetine; mungkin meningkatkan risiko kejang saat tramadol diberikan dengan atomoxetine
Penyekat beta
Morfin mungkin meningkatkan kadar esmolol dalam darah
Penyekat kanal kalsium
Metabolism alfentanil dihambat oleh diltiazem, risiko depresi napas lebih lama atau terlambat untuk muncul
Domperidone
Analgesik opioid melawan efek domperidon pada kerja saluran cerna
Dopaminergik
Risiko toksisitas SSP saat petidin diberikan dengan rasagiline, hindari petidin 2 minggu setelah rasagiline; hindari penggunaan bersama dextrometorphan dengan rasagiline; hiperpireksia dan toksisitas SSP dilaporkan saat petidin diberikan dengan selegiline, hindari penggunaan bersama; perhatian dengan tramadol disarankan pabrik selegiline
5HT3 antagonis
Efek tramadol mungkin dilawan oleh ondansetron
Memantine
Meningkatkan risiko toksisitas SSP saat dextrometorphan diberikan dengan memantine (pabrik memantine menyarankan penghindaran pemakaian bersama)
Metoclopramide
Analgesik opioid melawan efek metoclopramide pada efek saluran cerna
Obat untuk ulkus
Metabolism analgesik opioid dihambat oleh cimetidine, mengingkatkan kadar dalam darah
Dosis :
Nyeri ringan sampai sedang, per oral, DEWASA 30-60 mg tiap 4 jam bila perlu, maksimal 240mg/hari; ANAK 1-12 tahun, 0.5-1 mg/kg tiap 4-6 jam bila perlu; maksimal 240 mg sehari
Cara pelarutan dan pemberian :
Efek yang tidak diinginkan :
Konstipasi bis menyulitkan pada penggunaan jangka panjang; pusing, mual, muntah; kesulitan BAK; spasme ureter atau saluran empedu; mulut kering, sakit kepala, berkeringat, pelebaran pembuluh darah di wajah; pada dosis terapi, kodein lebih rendah kemungkinan darpada morfin untuk menyebabkan toleransi, ketergantungan, euphoria, sedasi atau efek yang tidak diinginkan lainnya
 Kodein suatu golongan opium alam yang banyak digunakan di Amerika Serikat. Nama lain obat satu ini adalah methylmorphine. Dinamakan seperti itu karena kodein diperoleh dari morfin yang melalui proses metilasi.
ternyata kodein merupakan prodrug. Berdasarkan apoteker di saluran pencernaan kodein akan diubah menjadi bentuk aktifnya, yaitu morfin (5-10%) dan sisanya akan menjadi bentuk bebas atau terkonjugasi dan membentuk kodein-6-glukoronida (70%), norkodeina (10%), hidromorfona (1%). Kodein merangsang reseptor dalam SSP maka dapat menekan refleks batuk.
            Sediaan yang dijual di pasaran dalam bentuk tablet dan cairan. Data dari medicatheraphy.com bahwa dosis untuk obat batuk untuk dewasa 10-20 mg PO tiap 4-6 jam (maksimum 120 mg / hari).Untuk anak-anak (6-12 tahun): 5-10 mg PO tiap 4-6 jam (maksimum 60 mg / hari). Sedangkan anak-anak (2-6 tahun): 2,5-5 mg PO tiap 4-6 jam(maksimum30mg/hari).
Alkaloid yang tersebar luas ini umumnya sering dikombinasi dengan obat-obat lainnya. Kodein sebagai penawar rasa sakit dapat digabung dengan aspirin atau asetominophen (Tylenol). Sedangkan kodein cair sebagai penawar sakit batuk (antitussif) menggunakan Robitussin AC, cheracol, dan elixer terpen hidrat .
efek samping, yaitu euforia, gatal, mual, muntah, mengantuk, mulut kering, miosis, hipotensi ortostatik, retensi urin, depresi dan sembelit . Serta bagi beberapa orang yang alergi dapat menyebabkan ruam.asalkan pemakaian sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan tidak digunakan dalam jangka waktu yang panjang, maka kodein tidak akan berbahaya.

Obat Valium Punya Cara Kerja yang Sama dengan Heroin

Geneva, Peneliti berhasil mengetahui cara kerja valium dalam otak. Valium, zat kimia yang biasa dipakai sebagai obat penenang ternyata punya cara kerja yang sama dengan heroin atau morfin pada otak. Itulah yang menyebabkan orang yang mengonsumsi obat ini menjadi ketergantungan.
Diazpam atau yang lebih dikenal sebagai valium akan meningkatkan level hormon dopamin di otak, sama halnya dengan obat-obatan yang bikin kecanduan. Penemuan yang dipublikasikan dalam Journal Nature ini membantu menjelaskan mengapa beberapa orang selalu ingin mengonsumsi obat itu lagi dan lagi.
Diazepam adalah obat yang dibuat oleh perusahaan farmasi asal Swiss, yaitu Hoffmann-La Roche pada tahun 1963. Diazepam yang masih berada dalam satu grup dengan obat benzodiazepines menjadi obat yang populer di kalangan pecandu karena dianggap sebagai heroin yang murah.
Dr Christian Luscher dan rekannya dari University of Geneva mengatakan, sebuah zat kimia yang disebut GABA (gamma aminobutyric acid) akan diproduksi dalam otak ketika seseorang mengonsumsi obat diazepam (valium). Zat tersebut akan meningkatkan level hormon dopamin dalam otak dan membuat seseorang merasa lebih tenang dan nyaman.
Hal itu juga yang terjadi pada para pecandu heroin atau morfinNamun efek kecanduan tersebut tergantung kemampuan mengikat reseptor GABA yang disebut dengan subunit. Jadi beberapa obat dari golongan benzodiazepines lainnya yang tidak mengikat reseptor itu tidak akan membuat kecanduan.
Pada orang yang mempunyai ketergantungan terhadap diazepam, penghentian diazepam secara tiba-tiba dapat menimbulkan sakau (sulit tidur, sakit kepala, mual, muntah, rasa melayang, berkeringat, cemas, atau lelah).
Oleh karena itu, setelah penggunaan yang lama, diazepam sebaiknya dihentikan secara bertahap dan sebaiknya di bawah pengawasan dokter.
Diazepam (valium) paling banyak digunakan untuk mengobati penyakit insomnia, gelisah, kejang-kejang dan lainnya. Meski demikian, baik benzodiazepines yang ada saat ini dan benzodiazepines baru akan sama-sama memiliki efek candu. Oleh karena itu obat baru tanpa efek candu perlu dikembangkan lagi.
 Obat Diazepam (Valium)
Diazepam adalah obat anti cemas dari golongan benzodiazepin, satu golongan dengan alprazolam (Xanax), klonazepam, lorazepam, flurazepam, dll.
Diazepam dan benzodiazepin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek GABA (gamma aminobutyric acid) di otak. GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat aktifitas di otak. Diyakini bahwa aktifitas otak yang berlebihan dapat menyebabkan kecemasan dan gangguan jiwa lainnya.
Diazepam tidak boleh dijual bebas, tetapi harus melalui resep dokter.
Efek samping diazepam yang paling sering adalah mengantuk, lelah, dan ataksia (kehilangan keseimbangan). Walaupun jarang, diazepam dapat menyebabkan reaksi paradoksikal, kejang otot, kurang tidur, dan mudah tersinggung. Bingung, depresi, gangguan berbicara, dan penglihatan ganda juga merupakan efek yang jarang dari diazepam.
Diazepam dapat menyebabkan ketergantungan, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi dan dalam jangka waktu lama. Pada orang yang mempunyai ketergantungan terhadap diazepam, penghentian diazepam secara tiba-tiba dapat menimbulkan sakau (sulit tidur, sakit kepala, mual, muntah, rasa melayang, berkeringat, cemas, atau lelah). Bahkan pada kasus yang lebih berat, dapat timbul kejang.
Oleh karena itu, setelah penggunaan yang lama, diazepam sebaiknya dihentikan secara bertahap, dan sebaiknya di bawah pengawasan dokter.
       2.  TurunanMeperidin
Contoh : petidin dan loperamid. Petidin mempunyai efek analgetik antara morfin dan kodein,sering digunakan untuk pengobatan kecanduan morfin karena mempunyai efek analgetik seperti morfin namun tidak menyebabkan ketergantungan. Sedangkan loperamid mempunyai efek langsung terhadap otot longitudinal dan sirkular usus, sehingga digunakan sebagai konstipan pada kasus diare akut dan kronis.
Penggunaan Antimotilitas (Loperamid ) pada Diare Akut Akibat Infeksi
Di Indonesia penyakit diare merupakan penyakit endemis dan tahunan yang biasa menyerang ketika musim hujan tiba. Hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan disekitarnya sehingga ketika ada salah satu warga terkena diare akan menyebar ke warga yang lain.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam, yang berlangsung kurang atau paling lama 15 hari. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare terbagi menjadi 2 berdasarkan mula dan lamanya yaitu diare akut dan diare kronik. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%.
Diare akut adalah diare yang waktu terjadinya gejala tiba-tiba dan berlangsung singkat (< 48-72 jam) disebabkan oleh infeksi (virus dan bakteri), keracunan makanan atau obat, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu (orang dewasa) sedangkan pada bayi dan anak 2 minggu, merupakan fase lanjut dari diare akut. Bakteri penyebab diare antara lain: Shigella, Salmonella, Campylobacter, Staphylococcus, V. cholerae serta E. Coli (ETEC dan EIEC), sedangkan virus antara lain: Adenovirus dan Rotavirus.
Secara klinis diare akut karena infeksi dibagi menjadi 2 golongan.
 Pertama, koleriform, dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.
 Kedua, disentriform, pada diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah. Pasien dengan diare akut akibat infeksi akan sering mengalami mual, muntah, nyeri perut, dan demam. Kekurangan cairan akan menyebabkan pasien akan merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, kulit menjadi keriput serta suara menjadi serak.
Obat ini tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun, karena fungsi hatinya belum berkembang dengan sempurna untuk dapat menguraikan obat ini, begitu pula untuk pasien dengan penyakit hati hati disarankan tidak menggunakan obat ini.
Loperamide dapat dikombinasikan dengan antibiotika (amoksisilin, fluoroquinolon, kotrimoksazol) untuk semua diare akibat infeksi bakteri atau virus kecuali infeksi Shigella, Salmonella, dan kolitis pseudomembran karena akan memperburuk diare yang diakibatkan bakteri enteroinvasif akibat perpanjangan waktu kontak antara bakteri dan epitel usus. Disamping itu loperamide juga tidak berinteraksi dengan antibiotika-antibiotika tersebut.
Obat pilihan :
Nama generik : Loperamide HCl
Nama paten : Imodium (Janssen-Cilag)
Nama dagang Indonesia : Alphamid (Alpharma), Amerol (Tempo), Antidia (Bernofarm),
Colidium (Solas), Diadium (Lapi), Imomed (Medikon), Imore
(Soho), Inamid (Nufarindo), Loremid (Meprofarm), Motilex
(Kalbe Farma), Normudal (Combiphar), Renamid (Fahrenheit).
Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik
Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan peristaltik, bayi
dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi utama
untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis
dan kolitis pseudomembran.
Bentuk sediaan : kaplet dan tablet salut selaput 2 mg.
Dosis dan aturan pakai : anak-anak : – diare akut maksimal 16 mg per hari
2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari
6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari
8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari
pemeliharaan : 0,1 mg/kg BB sesudah BAB
- diare kronis maksimal 4-12 mg per hari
< 5 tahun : 1 mg 4 kali per hari
> 5 tahun : 2 mg 4 kali per hari
pemeliharaan : 2 mg per hari sesudah BAB
dewasa : – diare akut, dosis awal 4 mg diikuti 2 mg
sesudah BAB maksimal 16 mg/hari,
- diare kronis dosis awal seperti diare akut
diikuti 4-8 mg/hari sesudah BAB maksimal
16 mg/hari.
Efek samping : nyeri abdominal (perut), mual, muntah, mulut kering,mengantuk, pusing, ruam kulit, dan megakolon toksik.
Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resikopenggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di manapenelitian pada wanita (manusia) belum tersedia. Tidak direkomedasikan untuk wanita menyusui karena loperamid dapat masuk ke jaringan payudara (susu).Tidak boleh untuk pasien dengan kolitis ulserativ parah, karenamegakolon toksik dapat terjadi.
Loperamid
nama dagang
- Amerol
- Antidia
- Colidium
- Diadium
- Diasec
- Imodium
- Imomed
- Imore
- Imosa
- Inamid
- Lexadium
- Lodia
- Loremid
- Motilex
- Normotil
- Normudal
- Opox
- Oramide
- Primodium
- Renamid
- Xepare
- Zeroform
- Alphamid

dosis
Dosis dewasa :
Diare akut : dosis awal 4 mg per oral, dilanjutkan dengan 2 mg setiap diare berikutnya sampai dengan 5 hari; dosis lazim 6-8 mg per hari, maksimum 16 mg per hari. Bila diare akut tidak sembuh / tidak ada perbaikan dalam waktu 2 hari,sebaiknya pemakaian obat dihentikan.
Diare kronis : dosis awal 4 mg per oral, dilanjutkan dengan 2 mg setiap diare hingga diare terkendali, maksimum 16 mg per hari. Dosis rata-rata untuk pemeliharaan : titasi dosis sesuai kebutuhan individu, dosis rata-rata per hari 4-8 mg per oral diminum sebagai dosis tunggal ataupun terbagi, maksimum 16 mg per hari. Jika tidak ada perbaikan dalam waktu 10 hari dengan pemberian 16 mg per hari, pemakaian obat dihentikan.
Dosis anak-anak :
Diare akut : usia 2-6 tahun (13–20 kg) : 1 mg per oral tiga kali sehari; usia 6–8 tahun (20–30 kg) : 2 mg per oral dua kali sehari; usia 8–12 tahun (> 30 kg) : 2 mg per oral tiga kali sehari.
Diare kronis : dosis terapeutik pada anak-anak belum ditetapkan / tidak diijinkan untuk diare kronis pada anak-anak4, tetapi dosis 0,08-0,24 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis terbagi telah digunakan.
Di Inggris, tidak diijinkan untuk digunakan pada anak-anak di bawah usia 4 tahun, sedangkan di Amerika, tidak diijinkan pada anak-anak di bawah usia 2 tahun.
indikasi
Pengobatan simptomatik diare akut; terapi tambahan untuk rehidrasi dalam diare akut pada dewasa dan anak-anak di atas 4 tahun; diare kronis khusus untuk dewasa.
kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap Loperamid. Nyeri abdominal tanpa adanya diare. Tidak boleh diberikan pada kondisi dimana hambatan peristaltik harus dihindari, terutama pada kondisi ileus atau konstipasi. Loperamid tidak boleh digunakan sebagai terapi utama pada kondisi:
(i) bacterial enterocolitis, yang antara lain disebabkan oleh organisme Salmonella, Shigella, dan Camphylobacter;
(ii) disentri akut;
(iii) Ulcerative colitis akut;
(iv) Pseudomembranous colitis yang berhubungan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas. Bayi / anak-anak di bawah 2 tahun.
efek samping
Nyeri abdominal, mual, muntah, konstipasi, mulut kering, pusing, sakit kepala, reaksi kulit seperti kemerahan dan gatal, rasa lelah (fatigue)
interaksi
Dengan Obat Lain :
Loperamid meningkatkan absorpsi gastrointestinal Desmopressin. Interaksi major : Saquinavir (probable). Interaksi moderate : Gemfibrozil (established), Itraconazole (established).
Dengan Makanan :  -
mekanisme kerja
Loperamid merupakan turunan sintetis Pethidine yang dapat menghambat motilitas usus dan juga mengurangi sekresi gastrointestinal.6 Loperamid diyakini bekerja dengan cara mengganggu mekanisme kolinergik dan non kolinergik yang terlibat dalam refleks peristaltik, menurunkan aktivitas otot circular dan longitudinal pada dinding usus.
bentuk sediaan
Kapsul 2 mg, Film Coated Tablet/Tablet 2 mg, Kaplet 2 mg
parameter monitoring
Perbaikan dalam konsistensi feses dan frekuensi defekasi. Pada terapi jangka panjang, perlu ditentukan status cairan dan elektrolit secara periodik. Nyeri abdomen, mual, konstipasi. Toksisitas SSP (Sistem Saraf Pusat) pada pasien dengan gangguan hati.
stabilitas penyimpanan
Disimpan pada suhu kamar, dalam wadah  tertutup rapat, terlindung dari cahaya. Larutan oral stabil pada pH 2,1-9,7. Disarankan agar larutan oral tidak dicampur dengan atau diencerkan dengan pelarut / solven lainnya.
informasi pasien
Penggantian cairan dan elektrolit sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan, terutama pada kasus diare berat. Pasien diminta untuk memeriksakan diri ke dokter jika selama 2 hari pemakaian Loperamid masih mengalami diare atau gejala bertambah buruk, timbul demam, pembengkakan perut.
3.   TurunanMetadon
Contoh : metadon. Metadon mempunyai aktivitas analgetik 2 kali morfin dan 10 kali petidin. Seperti petidin, metadon sering digunakan untuk pengobatan kecanduan morfin karena mempunyai efek analgetik seperti morfin namun tidak menyebabkan ketergantungan.
Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat. Metadon biasanya disediakan pada program pengalihan narkoba, yaitu program yang mengganti heroin yang dipakai oleh pecandu dengan obat lain yang lebih aman.
Efek Samping :
 Walaupun metadon biasanya ditoleransi dengan baik, kadang klien mengalami efek samping:
• mual, muntah: 10-15 persen mengalami efek samping ini, yang biasanya hilang setelah beberapa hari
 sembelit: seperti opiat lain, gizi dan olahraga dapat membantu
• keringat: dapat muncul sebagai efek samping
• amenore: masa haid terlambat, atau kadang kala lebih teratur
• libido: metadon dapat menurunkan gairah seksual
• kelelahan: dapat dikurangi dengan mengurangi takaran
Metadon Berinteraksi dengan Obat Lain.
Tetapi beberapa obat dapat mempengaruhi efek metadon. Jadi petugas klinik metadon seharusnya selalu memantau penggunaan obat lain oleh kliennya. Bila setelah mulai memakai obat lain klien mengalami sakaw atau sedasi, sebaiknya takaran metadon disesuaikan. Sebaliknya, setelah obat tersebut dihentikan, takaran metadon harus disesuaikan lagi.
Garis Dasar
Metadon adalah opiat sintetis yang dapat dipakai untuk mengganti heroin. Terapi rumatan metadon merupakan program harm reduction atau pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS melalui penggunaan narkotik suntik.
Karena ada interaksi antara metadon dengan beberapa obat yang dipakai oleh Odha (Orang dengan HIV AIDs), petugas klinik metadon harus mengetahui bila klien mulai memakai obat baru, atau berhenti memakainya, agar takaran metadon dapat disesuaikan bila dibutuhkan.

Obat Metadon

Asma

Air Bersih

Boraks berbahaya bila digunakan untuk makanan

SINONIM BORAKS : Natrium biborat, Natrium piroborat, Natrium tetraborat. Nama dipasaran dikenal dengan nama pijer,Uyah Bleng (sunda), Bleng dan Air Ki. Warnanya putih dan larut dalam air. Penggunaan boraks hanya untuk bahan solder,bahan pembersih, pengawet kayu, anti septik kayu dan pengontrol kecoa
Formalin
Tujuannya untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat basi. Makanan yang tidak terjual dapat bertahan lebih lama sehingga kerugian yang fatal bisa dihindari. Namun entah disadari atau tidak bahaya mengancam konsumen seperti muntah muntah sampai yang lebih fatal yaitu kematian.

Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan yang serius, karena sampai dengan tahun 2008 angka kesakitan DBD terus meningkat. Jumlah kasus DBD perhari 374 kasus. Jumlah kemataian DBD cukup tinggi dibanding angka kematian penyakit lain, pada tahun 2008 dilaporkan 1.170 orang meninggal karena DBD, setiap hari penderita meninggal karena DBD 3-4 orang.

Rabies

Rabies (Penyakit Anjing Gila) merupakan suatu penyakit endemic hampir diseluruh dunia termasuk Indonesia. Penyakit Rabies di Indonesia ditemukan baik dikota, maupun di pedesaan dengan sumber penularan utama anjing, kucing dan kera, hewan piaraan yang sangat erat hubunhgannya dengan manusia. Penyakit ini sebenarnya merupakan penyakit hewan, tetapi kadang kadang ditularkan pada manusia melalui gigitan binatang.
4. Turunan Lain-lain
Contoh : tramadol.
Tramadol merupakan analgetik kuat dengan aktivitas 0,1 – 0,2 kali morfin. Meskipun efeknya melalui reseptor opiat, tramadol tidak menyebabkan depresi pernapasan.
TRAMADOL
Indikasi :
TRAMADOL diindikasikan untuk mengobati dan mencegah nyeri yang sedang hingga berat, seperti tersebut di bawah ini:
- Nyeri akut dan kronik yang berat.
- Nyeri pasca bedah.
Kontra indikasi :
Keracunan akut oleh alkohol, hipnotik, analgesik atau obat-obat yang        mempengaruhi SSP lainnya.Penderita yang mendapat pengobatan penghambat monoamin oksidase (MAO).
Penderita yang hipersensitif terhadap TRAMADOL.
Komposisi :
Tiap kapsul mengandung:
Tramadol Hidroklorida.....................................50 mg
Cara kerja obat :
TRAMADOL adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
TRAMADOL mengikat secara stereospsifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghentikan sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Di samping itu TRAMADOL menghambat pelepasan neutrotransmiter dari saraf aferen yang bersifat sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.
Efek samping :
Sama seperti umumnya analgesik yang bekerja secara sentral, efek samping yang dapat terjadi: mual, muntah, dispepsia, obstipasi, lelah, sedasi, pusing, pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering dan sakit kepala.
Meskipun TRAMADOL berinteraksi dengan reseptor apiat sampai sekarang terbukti insidens ketergantungan setelah penggunaan TRAMADOL, ringan.
            Perhatian :
Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan trauma kepala, peningkatan tekanan intrakranial, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat atau hipersekresi bronkus; karena dapat meningkatkan resiko kejang atau syok.
Dapat terjadi penurunan fungsi paru apabila penggunaan TRAMADOL dikombinasi dengan obat-obat depresi SSP lainnya atau bila melebihi dosis yang dianjurkan. TRAMADOL tidak boleh digunakan pada penderita ketergantungan obat. Meskipun termasuk agonis opiat, TRAMADOL tidak dapat menekan gejala putus obat, akibat pemberian morfin. TRAMADOL sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil, kecuali benar-benar diperlukan.
0,1% TRAMADOL diekskresikan melalui ASI (Air Susu Ibu).TRAMADOL dapat mengurangi kecepatan reaksi penderita, seperti kemampuan  mengemudikan kendaraan ataupun mengoperasikan mesin.
Lama pengobatan :
Pada pengobatan jangka panjang, kemungkinan terjadi ketergantungan, oleh karena itu dokter harus menetapkan lamanya pengobatan. Tidak boleh diberikan lebih lama daripada yang diperlukan.
 Interaksi obat :
 Penggunaan TRAMADOL bersama dengan obat-obat yang bekerja pada SSP (seperti: tranquillizer, hipnotik), dapat meningkatkan efek sedasinya.
Penggunaan TRAMADOL bersama dengan tranquillizer juga dapat meningkatkan efek analgesiknya.
Dosis :
Seperti halnya obat-obat analgesik, dosis harus diatur sesuai dengan beratnya rasa sakit dan respon klinis dari penderita.
Dosis untuk dewasa dan anak berumur di atas 14 tahun:
Dosis tunggal: 1 kapsul.
Dosis perhari: hingga 8 kapsul.
Apabila sakit masih terasa, dapat ditambahkan dosis tunggal kedua 1 kapsul TRAMADOL lagi, setalah selang waktu 30 - 60 menit.
Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati, perlu dilakukan penyesuaian dosis.
Kemasan :
Dus isi 5 strip @ 10 kapsul.
Penyimpanan :
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Jenis : kapsul
Produsen : PT Sanbe Farma
2. Obat Analgetik Non-Narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik).
Analgetik non-narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai moderat, sehingga sering disebut analgetik ringan. Analgetik non-narkotik bekerja menghambat enzim siklooksigenase dalam rangka menekan sintesis prostaglandin yang berperan dalam stimulus nyeri dan demam. Karena itu kebanyakan analgetik non-narkotik juga bekerja antipiretik.
Beberapa golongan analgetik non-narkotik antara lain sebagai berikut.
1.      Turunan Anilin dan Para-aminofenol. Contoh : asetaminofen (analgetik dan antipiretik)
    PANADOL EKSTRA
ü      Indikasi :
Untuk meringankan sakit kepala: migraine (sakit kepala sebelah)

Kontra Indikasi:
Pada penderita yang hipersensiitif terhadap acetaminophen dan caffeine, pada penderita dengan gangguan fungsi hati, reaksi sensitivitas jarang terjadi diawali dengan reaksi dermatologis seperti urtikarea, eritema, atau erupsi.

Komposisi:
Setiap kaplet mengandung acetaminophen 400 mg dan caffein 65 mg

Cara Kerja Obat:
Acetaminophen berkhasiat analgesik, yang timbul karena efek depresi selektif terhadap alat persepsi rasa sakit pada telamus dan hipotalamus disusunan saraf pusat. Aktifitas analgesiknya sebading dengan acetosal.
Caffeine merupakan stimulansistem syaraf pusat yang dapat memperlihatkan sifat-sifat tertentu seperti stimulasi jantung, diuretik, dan relaksasi otot polos.
Kombinasi acetaminophen-caffeine dapat meningkatkan efikasi analgesik.
Panadol Extra merupakan suatu produk non acetosal yang dirancang untuk memberikan efek peredaan nyeri.

Efek Samping:
Dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati.
Perhatian:
ü      Panadol Extra jarang menghasilkan efek samping. Biasnya ditoleransi dengan baik oleh pasien yang sensitif dengan acetosal.
ü      Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
ü      Penggunaan pada wanita hamil dan menyusui menurut nasihat dokter.,/li>
Hentikan penggunaan obat ini bila rasa sakit menetap lebih dari 5 hari, harap konsultasi ke dokter.
ü      Selama minum obat ini, minumlah sedikit mungkin cola yang mengandung caffein, (misal: kopi, teh, cola), sebab caffein yang terlalu banyak mungkin menyebabkan gelisah, iritabilitas, sukar tidur dan jantung berdebar.
ü      Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan, karena dapat menyebabkan kerusakan fungsi hati.
ü      Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
Dosis dan Aturan Pakai:
Dosis yang dianjurkan adalah 1 - 2 kaplet ditelan dengan air, 3 atau 4 kali sehari bila gejala membandel.
Jangan lebih dari 8 kaplet selama 24 jam.
Jangan diberikan pada anak-anak di bawah 12 tahun kecuali di bawah pengawasan dokter.
Penyimpanan:
Simpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang kering dan di bawah 30 derajat C.
Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Jenis: Tablet
Produsen: PT Glaxo Smith Kline
TEMPRA
Kandungan asetaminofen dalam beberapa jenis sediaan obat dan kekuatannya:
Supositoria (tablet/kapsul yang dimasukkan ke dalam anus atau vagina) : 120 mg, 125 mg, 300 mg, 600 mg
- Tablet kunyah : 80 mg
- Kekuatan normal : 325 mg
- Kekuatan ekstra : 500 mg
- Elixir: 325 mg/sendok teh, 160 mg/sendok teh, 120 mg/ sendok teh
- Sirup : 160 mg/sendok teh, 130 mg/sendok teh
- Obat tetes : 100 mg/mL, 120 mg/2,5 mL
Asetaminofen adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja hati, sehingga hati tidak lagi dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang dapat merusak hati. Keracunan asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber, jarang berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun, overdosis asetaminofen bisa menyebakban kerusakan hati.
Gejala keracunan asetaminofen terjadi melalui 4 tahapan:
1.  Stadium I (beberapa jam pertama) : belum tampak gejala
2. Stadium II (setelah 24 jam) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa hati    tidak berfungsi secara normal
3. Stadium III (3-5 hari kemudian) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan menunjukkan bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan hati
4. Stadium IV (setelah 5 hari) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal hati.
Gejalanya lainnya yang mungkin ditemukan:
- berkeringat
- kejang
- nyeri atau pembengkakan di daerah lambung
- nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas
- diare
- nafsu makan berkurang
- mual dan/atau muntah
- rewel
- koma.
Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi asetaminofen.
KERACUNAN ASETAMIFON
Lebih dari 100 jenis produk yang mengandung asetaminofen bisa dibeli secara bebas, tanpa resep dokter. Sediaan untuk anak-anak tersedia dalam bentuk sirup, tablet dan kapsul.
- Asetaminofen bisa ditemukan dalam beberapa obat berikut: Tylenol
- Anacin-3
- Liquiprin
- Panadol
2.      Turunan 5-pirazolon. Contoh : metamizol (analgetik dan antipiretik)
3.      Turunan Asam Salisilat. Contoh : asetosal (analgetik, antipiretik, antiradang)
PARASETAMOL
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal.
Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot.menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.

Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase.tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

Deskripsi:
Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesik
Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral.
Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.
Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga sehingga tindak digunakan sebagai antirematik.
Jenis: Tablet
Produsen: PT Indofarma
CARDIO ASPIRIN
Indikasi:
Mengurangi bahaya trombosis koroner lebih lanjut dalam masa pemulihan dan infark jantung (profilaksis re-infark), mengurangi risiko kematian dan atau serangan MCI (infark miokard) pada penderita dengan riwayat infark atau angina pektoris yang tidak stabil, pencegahan trombosis (profilaksis re-oklusi) setelah aortocoronary bypass, mengurangi risiko serangan TIA (Transient Ischemic Attack).

Kontra Indikasi:
Tablet Cardio Aspirin® salut enterik 100 mg tidak boleh diberikan pada penderita tukak lambung maupun duodeni dan pada pasien dengan tendensi hemoragik yang patologis, penderita hemofilia, penderita gangguan pendarahan lainnya dan penderita yang hipersensitif dengan asetosal.

Komposisi:
Setiap tablet salut enterik Cardio Aspirin® mengandung 100 mg asam asetilsalisilat.

Cara Kerja:
Pencegahan agregasi platelet berdasarkan kerja biokimia asam asetilsalisilat yaitu penghambatan ireversibel dari siklooksigenase di platelet dan penghambatan reversibel dari siklooksigenase di dinding pembuluh darah.

Dosis:
Umumnya diberikan 1 tablet 100 mg/hari. Untuk mengurangi iritasi lambung sebaiknya diminum sesudah makan, tablet ditelan dengan air.

Efek yang Tidak Diinginkan:
Nyeri lambung, rasa terbakar, mual, perdarahan gastrointestinal, reaksi hipersensitivitas (serangan dyspnea, reaksi kulit), jarang terjadi; dapat terjadi berkurangnya trombosit (trombositopenia), peningkatan kadar enzim hati yang reversibel pada penggunaan jangka lama dan dosis tinggi.
Jenis: Tablet
Produsen: PT Bayer Indonesia
ASPIRIN
Indikasi :
Untuk meringankan rasa sakit, terutama sakit kepala dan pusing, sakit gigi, dan nyeri otot serta menurunkan demam.
Kontra Indikasi:
Penderita tukak lambung dan peka terhadap derivat asam salisilat, penderita asma, dan alergi. Penderita yang pernahatau sering mengalami pendarahan bawah kulit, penderita yang sedang terapi dengan antikoagulan, penderita hemofolia dan trombositopenia
Deskripsi:
Aspirin menghambat pengaruh dan biosintesa dari pada zat-zat yang menimbulkan rasa nyeri dan demam (prostaglandin). Daya kerja antipiretik dan analgetik dari pada Aspirin diperkuat oleh pengaruh langsung terhadap susunan saraf pusat.
Jenis: Tablet
Produsen: PT Bayer Indonesia
4.      Turunan 5-pirazolidindion. Contoh : fenilbutazon (analgetik dan antiradang)
5.      Turunan Asam N-arilantranilat. Contoh : asam mefenamat (analgetik dan antiradang)
ASAM  MEFENAMAT
Indikasi:
        Dapat menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore primer, termasuk nyeri karena trauma, nyeri   sendi, nyeri otot, nyeri sehabis operasi, nyeri pada persalinan.

Kontra Indikasi:
N/A
Komposisi:
Tiap tablet salut selaput mengandung asam mefenamat 500 mg.
Dosis:
Digunakan melalui mulut (per oral), sebaiknya sewaktu makan.

Dewasa dan anak di atas 14 tahun :
Dosis awal yang dianjurkan 500 mg kemudian dilanjutkan 250 mg tiap 6 jam.

Dismenore :
500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi ataupun sakit dan dilanjutkan selama 2-3 hari.

Menoragia :
500 mg 3 kali sehari, diberikan pada saat mulai menstruasi dan dilanjutkan selama 5 hari atau sampai perdarahan berhenti.
Efek samping:
Dapat terjadi gangguan saluran cerna, antara lain iritasi lambung, kolik usus, mual, muntah dan diare, rasa mengantuk, pusing, sakit kepala, penglihatan kabur, vertigo, dispepsia.
Pada penggunaan terus-menerus dengan dosis 2000 mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik.
Kontraindikasi:
Pada penderita tukak lambung, radang usus, gangguan ginjal, asma dan hipersensitif terhadap asam mefenamat.
Pemakaian secara hati-hati pada penderita penyakit ginjal atau hati dan peradangan saluran cerna.
Interaksi Obat:
Obat-obat anti koagulan oral seperti warfarin; asetosal (aspirin) dan insulin.
Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.
Kemasan:
Kotak isi 100
Jenis: Tablet
Produsen: PT Indofarma
   6. Turunan Asam Arilasetat. Contoh : ibuprofen dan diklofenak (analgetik, antipiretik,      antiradang)
     7.  Turunan Oksikam. Contoh : piroksikam (analgetik, antipiretik, antiradang)
PARASETAMOL
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal.
Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot.menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase.tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.
Deskripsi:
Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesik
Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral.
Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.
Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga sehingga tindak digunakan sebagai antirematik.
Jenis: Tablet
Produsen: PT Indofarma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

™Komentar Anda Bisa Membuat Perubahan™

Template by : Rq Baraik-template.blogspot.com