/** Kotak Iklan **/ .kotak_iklan {text-align: center;} .kotak_iklan img {margin: 0px 5px 5px 0px;padding: 5px;text-align: center;border: 1px solid #ddd;} .kotak_iklan img:hover {border: 1px solid #333}

Pages

Anda pengunjung yang ke:

Traffic Counter
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Prosedur Lumbal Pungsi


1. Pengertian
adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. (Brunner and Suddarth’s, 1999)


Pelaksanaan Pungsi Lumbal


2. Tujuan
pemeriksaan cairan serebrospinal
mengukur & mengurangi tekanan cairan serebrospinal
menentukan ada tidaknya darah pd cairan serebrospinal
mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal
memberikan antibiotic intrathekal ke dlm kanalis spinal terutama kasus infeksi.

3. Indikasi
- Kejang
- Paresis atau paralisis termasuk paresis Nervus VI
- Pasien koma
- Ubun – ubun besar menonjol
- Kaku kuduk dengan kesadaran menurun
- Tuberkolosis milier

4. Kontra Indikasi
- Syock/renjatan
- Infeksi local di sekitar daerah tempat pungsi lumbal
- Peningkatan tekanan intracranial (oleh tumor, space occupying lesion,hedrosefalus)
- Gangguan pembekuan darah yang belum diobati

5. Komplikasi
- Sakit kepala
- Infeksi
- Iritasi zat kimia terhadap selaput otak
- Jarum pungsi patah
- Herniasi
- Tertusuknya saraf oleh jarum pungsi

6. Alat dan Bahan
- Sarung tangan steril
- Duk lubang
- Kassa steril, kapas dan plester
- Jarum pungsi lumbal no. 20 dan 22 beserta stylet
- Antiseptic: povidon iodine dan alcohol 70%
- Tabung reskasi untuk menampung cairan serebrospinal

7. Anestesi local
- Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi local
- Obat anestesi loka (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin. (Reis CE, 2006)
- Tempat sampah.

8. Persiapan Pasien
Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen. Catatan : bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.

9. Prosedur Pelaksanaan
1. Lakukan cuci tangan steril
2. Persiapkan dan kumpulkan alat-alat
3. Jamin privacy pasien
4. Bantu pasien dalam posisi yang tepat, yaitu pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal (dahi ditarik kearah lutut), eksterimitas bawah fleksi maksimum (lutut di atarik kearah dahi), dan sumbu kraniospinal (kolumna vertebralis) sejajar dengan tempat tidur.
5. Tentukan daerah pungsi lumbal diantara vertebra L4 dan L5 yaitu dengan menemukan garis potong sumbu kraniospinal (kolumna vertebralis) dan garis antara kedua spina iskhiadika anterior superior (SIAS) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula dilakukan antara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi
6. Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius 10 cm dengan larutan povidon iodine diikuti dengan larutan alcohol 70 % dan tutup dengan duk steril di mana daerah pungsi lumbal dibiarkan terbuka
Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah memakai sarung tangan steril selama 15-30 detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama 1 menit.

7. Anestesi lokal disuntikan ke tempat tempat penusukan dan tusukkan jarum spinal pada tempat yang telah di tentukan. Masukkan jarum perlahan – lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus durameter. Jarak antara kulit dan ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi. Umumnya 1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3-5 tahun. Pada remaja jaraknya 6-8 cm.
8. Lepaskan stylet perlahan – lahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran cairan yang lebih baik, jarum diputar hingga mulut jarum mengarah ke cranial. Ambil cairan untuk pemeriksaan.
9. Cabut jarum dan tutup lubang tusukkan dengan plester
10. Rapihkan alat-alat dan membuang sampah sesuai prosedur rumah sakit
11. Cuci tangan

Insomnia

NURSING CARE IN INSOMNIA
PENGERTIAN
Tidur adalah bagian dari ritme biologis tubuh untuk mengembalikan stamina. Kebutuhan tidur bervariasi pada masing-masing orang, umumnya 6-8 jam per hari. Agar tetap sehat, yang perlu diperhatikan adalah kualitas tidur (www.depkes.go.id).
Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang bisa bersifat sementara atau persisten (Kaplan & Sadock, 1997).
Insomnia adalah salah satu fenomena umum dalam gangguan pola tidur. Jangka panjang dapat menyebabkan menderita gejala somatic dan perkembangan penyakit. Ia bahkan dapat menimbulkan penyakit mental dengan dimensi (www.ncbi.nlm.nih.gov).
Insomnia insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur, tetap tidur, atau merasa segar dengan tidur. Akut dan sementara selama periode stres, insomnia dapat menjadi kronis, konstan menyebabkan kelelahan, kegelisahan ekstrim sebagai pendekatan sensasi, dan gangguan kejiwaan (www.wrongdiagnosis.com).


PENYEBAB
1. karena kondisi medis : tiap kondisi yang menyakitkan atau tidak menyenangkan,sindroma apnea tidur, restless leggs syndrome,faktor diet, parasomnia, efek zat langsung (drugs/alcohol), efek putus zat, penyakit endokrin/metabolik, penyakit infeksi, neoplastic, nyeri/ketidaknyamanan,lesi batang otak/hipotalamus, akibat penuaan.
2. sekunder karena kondisi psikiatri
kecemasan, ketegangan otot-otot, perubahan lingkungan, gangguan tidur irama sirkadian, depresi primer, stress pascatraumatik, skizofrenia (Kaplan & Sadock, 1997).
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang dapat didiagnosis sedang menderita insomnia karena faktor psikologis, yaitu:

1. Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang paling banyak terjadi.
2. Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial,pekerjaan atau area fungsi penting yang lain.
3. Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atau parasomnia.
4. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium.
5. Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum.
Dengan adanya gejela-gejala yang disebutkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), maka insomnia karena faktor psikologis dapat mengganggu berbagai fungsi sosial. (www.e-psikologi.com).

SIKLUS INSOMNIA KRONIS
Jika seseorang mengalami insomnia sementara karena faktor psikologis (mengalami kesulitan tidur dengan nyenyak selama kurang lebih satu malam dan kurang dari empat minggu) tetapi tidak dapat beradaptasi dengan penyebab insomnia (tidak mampu mengelola stres tersebut secara sehat) maka akan mengakibatkan seseorang mengalami insomnia jangka pendek (kesulitan tidur nyenyak selama empat minggu hingga enam bulan). Jika insomnia jangka pendek ini tetap tidak dapat diatasi oleh si penderita maka akan mengakibatkan insomnia kronis. Jika terjadi insomnia kronis maka akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk penyembuhannya (www.e-psikologi.com).
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam keadaan terjaga. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.
• Sistem serotonergik
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan. Dengan    bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat akan    menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.
• Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergic akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.
• Sistem Kholinergik
Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan penurunan REM.
• Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur.
• Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormone seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun (perawat-jiwatiga.blogspot.com).

DAMPAK INSOMNIA
Insomnia dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan, yaitu:
1. Depresi
2. Kesulitan untuk berkonsentrasi
3. Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu
4. prestasi kerja atau belajar mengalami penurunan
5. Mengalami kelelahan di siang hari
6. Hubungan interpersonal dengan orang lain menjadi buruk
7. Meningkatkan risiko kematian
8. Menyebabkan kecelakaan karena mengalami kelelahan yang berlebihan
9. Memunculkan berbagai penyakit fisik

Dampak insomnia tidak dapat di anggap remeh, karena bisa menimbulkan kondisi yang lebih serius dan membahayakan kesehatan dan keselamatan. Oleh karenanya, setiap penderita insomnia perlu mencari jalan keluar yang tepat (www.e-psikologi.com).

THERAPY
1. CBT (Cognitive Behavioral Therapy)
CBT digunakan untuk memperbaiki distorsi kognitif si penderita dalam memandang dirinya, lingkungannya, masa depannya, dan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sehingga si penderita merasa berdaya atau merasa bahwa dirinya masih berharga.

2. Sleep Restriction Therapy
Sleep restriction therapy digunakan untuk memperbaiki efisiensi tidur si penderita insomnia.

3. Stimulus Control Therapy
Stimulus control therapy berguna untuk mempertahankan waktu bangun pagi si penderita secara reguler dengan memperhatikan waktu tidur malam dan melarang si penderita untuk tidur pada siang hari meski hanya sesaat.

4. Relaxation Therapy
Relaxation Therapy berguna untuk membuat si penderita rileks pada saat dihadapkan pada kondisi yang penuh ketegangan.

5. Cognitive Therapy
Cognitive Therapy berguna untuk mengidentifikasi sikap dan kepercayaan si penderita yang salah mengenai tidur.

6. Imagery Training
Imagery Training berguna untuk mengganti pikiran-pikiran si penderita yang tidak menyenangkan menjadi pikiran-pikiran yang menyenangkan.

Banyak di antara para penderita insomnia karena factor psikologis yang menggunakan obat tidur untuk mengatasi insomnianya. Namun penggunaan yang terus menerus tentu menimbulkan efek samping yang negative, baik secara fisiologis (efek terhadap organ dan fungsi organ tubuh) serta efek psikologis. Logikanya, insomnia yang disebabkan factor psikologis, berarti factor psikologis itu lah yang harus di atasi, bukan symtomnya. Kalau kita hanya focus mengatasi simtom-nya dengan minum berbagai obat tidur, maka ketika mata terbuka, masalah akan datang kembali, bahkan akan dirasa lebih berat karena dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi pada akar masalah.

Perlu diketahui, bahwa keberhasilan terapi tergantung dari motivasi si penderita untuk sembuh sehingga si penderita harus sabar, tekun dan bersungguh-sungguh dalam menjalani sesi terapi. Selain itu, sebaiknya terapi yang dilakukan juga diiringi dengan pemberian terapi keluarga. Hal ini disebabkan, dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita dilibatkan untuk membantu kesembuhan si penderita. Dalam terapi keluarga, anggota keluarga si penderita juga diberi tahu tentang seluk beluk kondisi si penderita dan diharapkan anggota keluarganya dapat berempati untuk membantu kesembuhan si penderita.

ASKEP
kaji efek samping pengobatan pada pola tidur klien.
pantau pola tidur klien dan catat hubungan faktor-faktor fisik (misalnya : apnea saat tidur, sumbatan jalan nafas, nyeri/ketidaknyamanan, dan sering berkemih).
jelaskan pada klien pentingnya tidur adekuat (selama kehamilan, sakit, stress psikososial).
ajarkan klien dan keluarga untuk menghindari faktor penyebab (misal : gaya hidup, diet, aktivitas, dan faktor lingkungan).
ajarkan klien dan kelurga dalam teknik relaksasi (pijat/urut sebelum tidur, mandi air hangat, minum susu hangat).

Solusi mencegah insomnia
Insomnia karena faktor psikologis dapat dicegah dengan cara memanage stres secara positif dan jika ada mengalami masalah sebaiknya sharing pada seseorang yang dapat Anda percaya. Semoga dengan pembahasan tentang insomnia ini, dapat memberikan manfaat bagi Anda. Dengan informasi ini, diharap kita pun bisa memahami penderita insomnia dan dapat memberikan bantuan yang tepat. Perhatian dan empati terhadap penderita insomnia, bisa sedikit mengobati kegalauan emosi jiwanya. Semoga bermanfaat.

KEPUSTAKAAN
http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=483
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18836979?ordinalpos=2&itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DefaultReportPanel.Pubmed_RVDocSum
http://www.wrongdiagnosis.com/symptoms/insomnia/causes.htm
Kaplan, Harold I. & Sadock, Benjamin J. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 2 edisi 7. Jakarta : Binarupa Aksara.
Wilkinson, Judit M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria hasil NOC. Jakarta : EGC.

Penatalaksanaan Abortus

 


Abortus adalah istilah yang diberikan untuk semua kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas janin, yaitu yang berakhir sebelum berat janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap (139 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir normal yang dapat dipakai.
Penanganan abortus ditujukan untuk mengurangi resiko perdarahan.
USG dapat menentukan denyut jantung janin (> 5mm) dan membantu menentukan kelainan organik (anensefalus, NT >3mm), dan kemungkinan nir-mudigah / bligted ovum

Tinjauan teori selengkapnya Baca DI SINI

PROSEDUR / PROTAP
  1. Pada keadaan iminens, tirah baring tidak memberikan hasil lebih baik (IA), namun dianjurkan untuk membatasi aktivitas. Upayakan untuk meminimalkan kemungkinan rangsangan prostaglandin. Tidak dianjurkan terapi dengan hormon Estrogen dan Progesteron. Dapat diindikasikan sirklase serviks pada trimester kedua untuk pasien dengan inkompentesi serviks.
  2. Perdarahan subkhorionik dengan janin normal sebagian besar akan berakhir dengan kehamilan normal. Sebaliknya pada nir-mudigah dianjurkan untuk evakuasi dengan obat misoprostol atau aspirasi.
  3. Pada keadaan insipiens, umumnya harus dirawat. Karena tidak ada kemungkinan kelangsungan hidup bagi janin, maka dapat diberikan misoprostol untuk mengeluarkan konsepsi, analgetik mungkin diberikan. Demikian juga, setelah janin lahir, kuretase mungkin diperlukan.
  4. Pada keadaan incompletus, apabila bagian hasil konsepsi telah keluar atau perdarahan menjadi berlebih, maka evakuasi hasil konseps segera diindikasikan untuk meminimalkan perdarahan dan risiko infeksi pelvis. Sebaiknya evakuasi dilakukan dengan aspirasi vakum,karena tidak memerlukan anestesi.
  5. Missed abortion sebaiknya dirawat di rumah sakit karena memerlukan kuretase dan ada kemungkinan perdarahan banyak serta risiko tranfusi.
  6. Prinsip penanganan terapi abortus septik
  • harus dikendalikan dengan antibiotik : Cefalosporin generasi II seperti Cefoperazone
  • Volume intravaskuler efektif harus dipertahankan untuk memberikan perfusi jaringan yang adekuat
  • Hasil konsepsi dalam uterus harus dievakuasi, bila perlu dilakukan laparotomi eksplorasi, sampai pengangkatan rahim

Penyakit Menular Seksual (PMS)

Image from abcnews.go.com
1. Gonore (GO)
Gonore (nama lainnya : GO, Kencing Nanah, Uretritis Spesifik ) disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae. Masa inkubasi penyakit ini 2 sampai 10 hari setelah kuman menginfeksi tubuh penderita melalui hubungan seks.
Diagnosis Gonore dapat di tegakkan dengan kultur atau “smear” dari organ tubuh yang terinfeksi. Penderita yang terinfeksi kuman Neisseria gonorrhoeae atau Gonore harus mendapatkan pengobatan dan dianggap akan mampu untuk menularkan penyakitnya sampai gejala penyakitnya menghilang. Dengan tidak diobati atau dengan pengobatan yang tidak sampai sembuh, Infeksi Gonore dapat berkembang pada organ-organ reproduksi, yang dapat mengakibatkan terjadinya arut pada jaringan organ reproduksi dan akhirnya akan menyebabkann sterilitas menetap atau permanen.
Tanda dari penyakit ini (gonore) yaitu adanya nyeri, berwarna merah, timbul bengkak dan bernanah. Gejala gonore pada laki -laki yaitu adanya rasa nyeri atau sakit pada saat buang air kecil / kencing, adanya nanah kental kuning kehijauan, pada ujung penis tampak berwarna merah dan sedikit bengkak. Pada wanita 60% kasus sama sekali tidak nampak gejala. Tetapi terkadang ada rasa nyeri / sakit saat buang air kecil / kencing dan penderita mengalami keputihan kental dengan warna kekuningan.
Akibat yang di timbulkan dari gonore pada laki-laki dan wanita adalah kemandulan. Pada wanita bisa juga mengalami peradangan pada panggul, dan infeksi dapat menular pada bayi yang di lahirkan oleh wanita penderita berupa infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan pada si bayi. Pengobatan mata pada bayi baru lahir secara rutin dengan menggunakan salep antibiotik harus di lakukan untuk mencegah teerjadinya infeksi ini.

2. Sifilis (Raja Singa)
Sifilis disebabkan oleh kuman Treponema Pallidum. Masa tanpa gejala berlangsung 3 sampai 4 minggu, dan terkadang juga bisa sampai 13 minggu. Setelah itu muncul benjolan disekitar alat kelamin. Penyakit ini juga kadang-kadang dengan keluhan sakit kepala/pusing dan nyeri pada tulang seperti pada influensa yang sembuh tanpa diobati. Terdapat bercak berwarna kemerahan pada tubuh sekitar 6 sampai 12 minggu setelah hubungan seks dengan penderita yang terinfeksi. Bercak tersebut ini akan hilang sendiri dan kebanyakan penderita tidak memperhatikan adanya gejala ini. Pada 2 sampai 3 tahun pertama penyakit ini sama sekali tidak memunculkan gejala apa-apa, yang biasa disebut masa laten. Tetapi setelah 5 sampai 10 tahun penyakit sifilis akan menyebabkan kerusakan susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung penderita. Pada wanita yang hamil sifilis dapat menularkan penyakitnya pada bayi yang dikandungnya dan bayi yang di lahirkan dapat mengalami kerusakan pada kulit, hati, limpa dan keterbelakangan mental.
3. Herpes genital
Penyakit Herpes Genital disebabkan oleh virus herpes simpleks dengan masa inkubasi 4 sampai 7 hari setelah virus menginfeksi tubuh melalui hubungan seks.
Gejala dan tanda-tandanya adalah :
Bintil-bintil berisi air (membentuk kelompok seperti anggur) yang terasa nyeri/sakit pada daerah sekitar alat kelamin.
Bintil tersebut kemudian pecah sehingga menimbulkan luka yang kering mengerak, kemudian hilang dengan sendirinya.
Gejala akan muncul kembali seperti diatas tetapi keluhan nyeri tidak seperti pada saat infeksi awal
Pada wanita sering berlanjut menjadi kanker mulut rahim pada beberapa tahun kemudian, penyakit ini belum di temukan obat yang dapat menyembuhkan secara tuntas, tetapi pengobatan dengan anti virus dapat mengurangi rasa sakit dan menurunkan lamanya episode penyakit.

4. Klamidia
Klamidia disebabkan oleh Chlamydia Trachomatis dengan masa tanpa adanya gejala sekitar 7 sampai 21 hari. Gejala klamidia yaitu muncul radang pada alat reproduksi laki-laki dan wanita. Pada wanita gejalanya bisa berupa :

  • Keluar cairan pada alat kelamin/ keputihan berbentuk encer dengan warna putih kekuningan.
  • Rongga panggul terasa nyeri
  • Terjadi perdarahan sesaat setelah melakukan hubungan seksual
Gejala pada laki-laki :
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Adanya cairan bening yang keluar dari saluran kencing
  • Jika terjadi infeksi yang berlanjut akan sering keluar cairan dan bercampur dengan darah
Kadang kadang gejala tidak nampak gejala sama sekali walaupun proses infeksi sedang terjadi. Hal tersebut menyebabkan penderita tidak menyadari dalam keadaan terinfeksi penyakit klamidia dan tanpa di sadari dapat menularkannya kepada pasangannya saat melakukan hubungan seksual.
Pada perempuan yang terinfeksi klamidia akan menimbulkan kecacatan pada saluran telur dan kemandulan, peradangan pada saluran kencing, terjadi robek pada selaput ketuban sehingga menimbulkan kelahiran bayi sebelum waktunya (prematur). Sedangkan pada laki-laki mengakibatkan kerusakan saluran sperma dan mengakibatkan kemandulan, serta peradangan saluran kencing. Sekitar 60% sampai 70% bayai yang terinfeksi klamidia akan mengalami infeksi pada mata dan atau infeksi saluran pernapasan (pneumonia)

5. Kutil Kelamin ( Genital warts)
Kutil Kelamin disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV), dengan gejala yang khas yaitu adanyat satu atau beberapa kutil disekitar alat kelamin. Infeksi pada perempuan dapat mengenai kulit disekitar alat kelamin sampai dubur, selaput lendir bagian dalam, vagina hingga leher rahim. Pada wanita hamil, pertumbuhan kutil dapat menjadi lebih besar. Infeksi Kutil kelamin bisa menjadi pencetus timbulnya kanker leher rahim atau kanker kulit disekitar kelamin. Kutil kelamin pada laki-laki terdapat pada alat kelamin dan bagian dalam saluran kencing (uretra). Infeksi kutil ini bisa saja tidak di sadari karena terkadang tidak terlihat tetapi dapat menularkan penyakitnya kepada pasangannya. Pengobatan yang dilakukan pada penyakit kutil ini belum mampu secara tuntas menyembuhan.

6. HIV/AIDS
AIDS (Aquired Immune Deciency System) adalah kumpulan gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi akibat infeksi virus HIV (Humman Immuno Deficiency Virus). HIV/AIDS termasuk dalam PMS, karena salah satu cara penularannya dengan hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi virus HIV.
Cara penularan HIV/AIDS :
Karena virus HIV terdapat pada seluruh cairan tubuh manusia (sperma, darah dan cairan vagina dll).
Sehingga penyakit ini dapat di tularkandengan cara sebagai berikut :
  • Berhubungan seksual dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV.
  • Menggunakan jarum suntik bekas orang yang terinfeksi virus HIV.
  • Lewat Transfusi darah yang telah tercemar HIV.
  • Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV meneluarkannya kebayinya
Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
  • Laki-laki homoseksual atau biseks.
  • Orang yang ketagian obat intravena
  • Partner seks dari penderita AIDS
  • Penerima tranfusi darah atau produk darah
  • Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita.

Penatalaksanaan Tetanus

Penyakit tetanus adalah penyakit yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani ditandai dengan kejang otot secara paroximal dan diikuti kaku otot seluruh badan .

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh : Clostridium tetani , yang memiliki sifat :

  • Bentuk batang
  • Badan ramping dengan ukuran 2 – 5 x 0,4 milimikron
  • Berspora
  • Dengan pewarnaan bersifat gram positif
  • Anaerob

Epidemiologi
Kuman ini tersebar di :
  • Tanah terutama tanah garapan
  • Dijumpai pada tinja manusia dan hewan

Faktor pencetus :
Perawatan luka yang tidak baik merupakan faktor pencetus terserin
Patogenesis
Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan keadaan anaerob yang disukai untuk tumbuhnya kuman tetanus antara lain ;

  • Luka tusuk yang dalam misalnya kena paku atau duri
  • Luka karena kecelakaan baik lalu lintas maupun kacelakaan kerja
  • Luka ringan seperti luka gores dan excoriasi

Hipotesa bekerjanya toksin :
  1. Toksin diabsorbsi pada ujung syaraf motorik dan melalui sumbu silindris menuju cornu anterior CNS
  2. Toksin diabsorbsi oleh sistem limfe masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam CNS

Gejala klinis :
  • Masa inkubasi tetanus 2 – 21 hari
  • Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak yang bisa berupa :
  • Spastisitas otot terutama pada leher dan rahang
  • Kesukaran membuka mulut
  • Kaku kuduk
  • Kejang sepanjang ruas tulang belakang
  • Bila kejang tonik sedang berlangsung maka pada daerah muka nampak berwajah seperti kera ( Rhesus sardonicus )
  • Serangan timbul paroximal dapat dicetuskan oleh rangsangan suara, cahaya, maupun sentuhan tetapi dapat timbul spontan
  • Karena kontraksi otot yang kuat dapat terjadi aspirasi dan cyanosis, retensio urine dan bahkan fractura columna vertebrae
  • Pada anak terkadang djumpai demam ringan

Pemeriksaan
  • Pada anamnesa biasanya didapatkan riwayat luka
  • Pada pemeriksaan fisik didapatkan kekakuan otot menyeluruh dan kejang
  • Laboratorium biasanya dijumpai leukositosis

Prosedur penatalaksanaan tetanus

SARANA
  • Oksigen
  • Suction aparatus

PENATALAKSANAAN
  1. Penderita diterima di penerimaan awal
  2. Penderita dibaringkan di triage untuk diseleksi dan pemeriksaan awal
  3. Penderita dibawa ke ruang kartu merah untuk pemeriksaan lebih lanjut
  4. Penderita dilakukan pemeriksaan laboratorium
  5. Berikan oksigen
  6. Dilakukam penghisapan lendir dengan suction
  7. Pasang infus RL
  8. Penderita di MRS kan
Pada dasarnya, penatalaksaannya tetanus bertujuan untuk :
1. Eliminasi Kuman
  • Debridement
Untuk meghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka / infeksi umbilicus, membersihkan liang telinga / mengobati otitis media
  • Antibiotika
Penicilline procaine 50.000 – 100.000 IU / kg / hari IM, 1 – 2 kali sehari minimal selama 10 hari.
Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.
2. Netralisasi Toksin :
  • Toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.
  • Dapat diberi TIGH 500 KI (neonatus) – 6000 KI i.m atau ATS 5000 KI – 100.000 KI.
3. Perawatan Suportif :
Perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional.
a. Nutrisi dan Cairan :
  • Pemberian cairan IV disesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.
  • Beri nutrisi tinggi kalori, bila perlu dengan nutrisi parenteral.
  • Bila sonde nasogastric telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang), pemberian makanan per oral hendaknya segera dilaksanakan.
b. Menjaga agar pernapasan tetap efisien :
  • Pembersihan saluran napas dari lendir.
  • Pemberian zat asam tambahan.
  • Bila perlu, lakukan tracheostomi (tetanus berat).
c. kekakuan dan mengatasi kejang :
  • Antikonvulsan diberikan secara titrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respons klinis.
  • Pada penderita yang cepat memburuk (serangan kejang makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi, yaitu dimulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan yang lebih tinggi.
  • Bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi, harus dilakukan pelumpuhan otot secara total dan dibantu dengan pernapasan makanik (ventilator).

Kontrasepsi

Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas (Prawitohardjo, 2002).
Efektifitas (daya guna) suatu cara kontrasepsi dapat dinilai pada 2 tingkat, yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diingini, apabila cara tersebut digunakan terus menerus dan sesuai petunjuk yang diberikan; kedua guna pemakaian, yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi dalan keadaan sehari-hari dimana pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemakai tidak hati-hati, kurang taat pada peraturan, dan sebagainya (Prawiroharjo, 2002).

Macam-macam Metode Kontrasepsi
a. Metode Sederhana
1) Tanpa Alat
Pada metode ini ada 2 cara yakni dengan KB alamiah (metode kalender, metode suhu badan basal, metode lendir serviks, metode simpto termal) dan coitus interruptus
2) Dengan Alat
>Ada 2 metode yakni mekanis atau barrier (kondom pria dan barrier intra vaginal) dan kimiawi yakni dengan spermisid (vaginal cream, vaginal foam, vaginal jelly, vaginal suppositoria, dan vaginal tablet).
3) Metode Modern
a) Kontrasepsi hormonal
Pada kontrasepsi hormonal ada tiga metode yakni per-oral (pil oral kombinasi, mini-pil, morning after pil), injeksi atau suntikan, sub-kutis: implant
b) Intra Uterine Devices (IUD)
c) Kontrasepsi mantap
Kontrasepsi mantap pada istri yakni tubektomi, sedangkan pada suami yakni vasektomi.
Tag : Kontrasepsi, Kondom, Sermisid, vaginal cream, vaginal foam, vaginal jelly, vaginal suppositoria, vaginal tablet, Pil KB, IUD

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK

Menurut Yusuf (2004) faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adalah:
a. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Beberapa studi tentang hubungan antara perkembangan bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang dari keluarga miskin mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasanaya dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik. Kondisi ini terjadi mungkin disebabkan perbedaan kecerdasan dan kesempatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya) dan pada keluarga kelas rendah, kegiatan keluarga cenderung rendah kurang terorganisasi dari pada kelas menengah keatas. Pembicaraan antar keluarga juga jarang-jarang karena kegiatannya berfokus pada pencarian pendapatan, sehingga perkembangan bahasa anak kurang diperhatikan (Hetzer & Reindorf dalam Hurlock 1996).
Menurut Gegas (1979) dan Peterson serta Rollins (1987) dalam (Friedman, 1998) menyatakan bahasa dan kemampuan linguistik amat berkembang dikalangan anak dari kelas menengah keatas. Ibu dari kelas bawah lebih mengandalkan penggunaan perintah atau komando, padahal ibu dari kelas menengah keatas cenderung menjelaskan alasan adanya suatu aturan, selain itu perilaku ibu dan teknik dipengaruhi oleh banyaknya stres dan ketegangan yang dialmai ibu, sumber-sumber yang digunakan untuk membantu konseling, dan mendukung mereka, juga sosialisasi mereka sndiri sebagai anak yang menggambarkan suatu kelas sosial dimana mereka berasal.
Menurut (Friedman, 1998) sosial ekonomi adalah tingkatan kelas sosial masyarakat dibidang ekonomi yang terbagi dalam:

  1. Kelas sosial rendah dengan kreteria hanya mampu mencukupi kebutuhan primer saja (sandang, pangan, papan)
  2. Kelas sosial ekonomi menengah dengan kreteria mampu mencukupi kebutuhan primer dan sekunder (kebutuhan akan hiburan, rekreasi, menonton film dan lain-lain)
  3. Kelas sosial ekonomi atas dengan kreteria mampu mencukupi kebutuhan primer, sekunder, tersier (kebutuhan akan barang mewah: perhiasan, mobil, vila dan lain-lain)
Menurut Bank Rakyat Indonesia (2004) pendapatan dikatakan tinggi apabila pendapatan >3 juta, pendapatan sedang antara 1-3 juta, dan pendapatan rendah < 1 juta.
b. Hubungan Keluarga
Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan ibu yang mengajar, melatih dan memberikan contoh bahasa kepada anak. Hubungan yang sehat antara ibu dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari ibunya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya. Hubungan yang tidak sehat itu bisa berupa sikap ibu yang keras/kasar, kurang kasih sayang, atau kurang perhatian untuk memberikan latihan dan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan seperti: gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takt untuk mengungkapkan pendapat dan berkata yang kasar atau tidak sopan.
Menurut Hurlock (1996) lingkungan yang pertama dan utama masa anak adalah lingkungan keluarga, utamanya ibu. Hubungan antar keluarga mempunyai peran yang penting dalam menentukan pola, sikap, dan perilakunya kelak dalam hubungan dengan ibu. Meskipun pola ini akan berubah dengan semakin besarnya anak dan meluasnya lingkungan, tetapi pola intinya cenderung tetap. Inilah sebabnya mengapa hubungan keluarga yang dini merupakan unsur penting bagi perkembangan anak. Hubungan keluarga merupakan faktor penting dalam perkembangan individu. Ada tiga bukti yang menunjukkan hal tersebut:
1. Kurang kasih sayang
Anak yang dimasukkan kedalam suatu lembaga sehingga kurang mempunyai kesempatan yang wajar untuk mengungkapkan kasih sayang untuk dicintai oleh orang lain sehingga membuat anak menjadi pendiam, lesu, tidak responsif terhadap senyuman dan tidak berusaha untuk memperoleh kasih sayang, serta lebih lambat perkembangannya dari anak yang berada di lingkungan yang berbahagia.
2. Perilaku akrab
Hubungan anak dengan ibu atau pengganti ibu yang akrab, hangat dan memuaskan. Semua anak memerlukan perawatan yang terus menerus, sehingga anak merasa aman, puas dan ada hubungan keterikatan yang sangat erat yang merupakan dasar untuk mengadakan persahabatan dan menerima perilaku yang lebih baik.
3. Besarnya keluarga
Pengaruh besarnya keluarga terhadap awal perkembangan anak, dari anak keluarga besar yang jarak usia semua anak sangat kecil, mengalami sedikit hubungan langsung dengan ibunya karena ibunya terlalu sibuk. Anak yang kurang kasih sayang ibu, kurang kesempatan untuk mengembangkan keterikatan emosi, juga kekurangan perhatian dan rangsang mengakibatkan anak lesu dan pasif.
c. Faktor Kesehatan
Kesehatan merupakan faktor keluarga yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, tetutama pada bahasa awal kehidupannya. Apabila anak mengalami sakit terus-menerus maka anak tersebut akan mengalami kelambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasa anak secara formal.
d. Faktor Intelegensi
Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat intelegensinya. Anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau diatas normal. Namun begitu, tidak semua anak yang mengalami kelambatan perkembangan bahasanya dikategorikan anak yang bodoh.
e. Jenis Kelamin (seks)
Pada tahu pertama usia anak tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dan wanita. Namun mulai usia 2 tahun, anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih.

Kompres Hangat

1. Definisi Kompres


Compres : a pad of cloth applied firmly to a part of the body; compres may be dry or wet, cold or warm (Smith, 1996).
Berdasarkan definisi di atas bahwa kompres dapat diberikan dalam keadaan kering atau basah dan dingin atau hangat. Kompres menggunakan media panas dapat berupa kantong air panas/botol berisi air panas, uap panas, lumpur panas, handuk panas, electric pads dan lain-lain.
2. Manfaat/efek Panas
Panas digunakan secara luas dalam pengobatan karena memiliki efek dan manfaat yang besar. Adapun manfaat/efek panas adalah (Gabriel, 1996) :
a. Efek Fisik
Panas dapat manyebabkan zat cair, padat dan gas mengalami pemuaian ke segala arah.
b. Efek Kimia
Panas dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia. Pada jaringan akan terjadi metabolisme seiring dengan peningkatan pertukaran antara zat kimia tubuh dengan cairan tubuh.
c. Efek Biologis
Panas dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah.
Secara fisilogis respon tubuh terhadap panas yaitu menyebabkan pelebaran pembuluh darah, menurunkan kekentalan darah, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan metabolisme jaringan dan meningkatkan permeabilitas kapiler. Respon dari panas inilah yang dipergunakan untuk keperluan terapi pada berbagai kondisi dan keadaan yang terjadi dalam tubuh.


3. Mekanisme Kerja Panas
Energi panas yang hilang atau masuk ke dalam tubuh melalui kulit dengan empat cara yaitu : secara konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (Gabriel, 1996).
Adapun prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah, sehingga akan terjadi penurunan ketegangan otot. Kompres ini dilakukan dengan menggunakan buli-buli panas yang dibungkus dengan kain, bersuhu 36°-38° C, yang ditempelkan langsung pada sisi kanan dan sisi kiri perut secara bergantian antara sisi perut kanan dan sisi perut kiri setiap 5 menit selama 20 menit. Air panas diganti setiap lima sampai sepuluh menit untuk mempertahankan suhu buli-buli panas tetap hangat. Kompres diberikan sampai nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang (Perry and Potter, 1993).

Proses Menstruasi

Menstruasi atau haid adalah pendarahan periodik dan siklik dari rahim akibat runtuhnya jaringan endometrium. Proses terjadinya haid berlangsung dengan tahapan berikut:

a. Stadium menstruasi atau desquamasi

Pada saat stadium menstruasi, dari kandungan melalui vagina keluar darah haid disertai lapisan endometrium dan lendir dari servik. Darah yang keluar tidak membeku karena ada fermen yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan - potongan mukosa.
Bila haid banyak maka fermen tersebut tidak mencukupi sehingga timbul bekuaan -bekuan darah haid. Banyaknya perdarahan selama haid normalnya ± 50 cc. Pada stadium menstruasi endometrium menjadi tipis.

b. Stadium Post Menstruum atau Stadium Regenerasi

Stadium ini sejak hari ke 4 menstruasi dinamakan luka akibat endometrium yang dilepaskan berangsur - angsur ditutupi kembali oleh selaput lendir yang baru dari epitel-epitel kelenjar endometrium ± 0,5 mm.
c. Stadium inter Menstruum atau Stadium Prolifer
Stadium ini berangsur dari hari ke 5 haid sampai hari ke 14 dari hari pertama haid. Kelenjar-kelenjar tumbuh lebih cepat dari jaringan lain pada stadium ini tebalnya endometrium ± 3,5 mm.
d. Stadium Pre menstruasi atau Stadimn Sekresi
Pada stadium ini endometrium tebalnya tetap tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang dan berliku-Iiku serta mengeluarkan getah. Stadium sekresi berlangsnng dari hari ke 14 - 28.
Template by : Rq Baraik-template.blogspot.com